Ironi Kemiskinan ditengah Industrialisasi

12 Agu

detikcom – Jakarta, Puluhan anak dan perempuan tua berpakaian lusuh. Sebagian menggendong balita mendekati kerumunan orang yang usai belanja di depan sebuah mal di Jalan Raya Cilegon Kota Cilegon, Banten Kamis (6/9/2007). Ini menimbulkan pertanyaan apakah perkembangan pesat yang berlangsung di kota baja ini belum mampu mengatasi kemiskinan dari wilayahnya. Terlebih pada awal tahun ini sebagian warga di sejumlah wilayah di kota ini dikabarkan mengalami krisis pangan. Seperti yang ditemukan di Kampung Langon II, Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan Pulomerak, Cilegon. Sebelas anggota keluarga Sabawi, selama tiga bulan, mengkonsumsi jantung pisang dan daun singkong karena tidak mampu membeli beras. Selain itu, tidak jarang keluarga ini terpaksa makan umbi bagedung sebagai makanan pengganti jika tidak ditemukan daun singkong maupun jantung pisang.

Bagedung merupakan sejenis umbi yang mengandung racun namun menurut pengakuan Usman anak kedua Sabawi, umbi ini dapat dikonsumsi setelah diproses selama satu minggu. Sabawi (39 tahun) kini masih tinggal dalam rumah yang berdinding kulit bambu dan beralas ubin. Samdasah (35), istrinya melahirkan sepuluh orang anak, namun anak kelimanya meninggal tahun 1997 karena sakit, saat berusia tiga bulan. Tahun 2004, keluarga yang menyandang predikat prasejahtera di Kota Cilegon sebanyak 7,2 persen dari total 69.513 keluarga. Sementara penduduk miskin yang tercatat Dinas Sosial Kota Cilegon berjumlah 67.351 jiwa, tersebar di delapan kecamatan, dan sebagian besar di Kecamatan Citangkil. Data tahun 2007, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dari 83.647 keluarga di Kota Cilegon, 20.902 keluarga termasuk dalam kategori keluarga miskin. Artinya selama tiga tahun terakhir, jumlah persentase kemiskinan di kota baja ini meningkat hingga 25 persen. Ironis. Kota industri yang pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapitanya terus meningkat secara signifikan itu ternyata warganya masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Yang lebih ironis adalah lebih dari 50 persen dari total penduduk miskin di Cilegon justru terkonsentrasi di tiga kecamatan yang merupakan kawasan industri, yaitu di Kecamatan Ciwandan, Pulomerak, dan Citangkil.

Itulah sebabnya, Sekretaris Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Silvi Shovawi Haiz SH berencana mendirikan posko pengaduan kemiskinan dan pengangguran di Kota Cilegon. Kemiskinan yang justru terkonsentrasi di kawasan industri ditengarai karena dana pengembangan masyarakat yang diwajibkan kepada industri-industri besar yang beroperasi di Cilegon tidak terdistribusi secara semestinya. Menurut Silvi, boleh jadi hal ini akibat kurang akuratnya data masyarakat yang layak menerima bantuan. Untuk itu Adad menganjurkan adanya kerja sama antara Dinas Sosial dan pihak perusahaan dalam hal pendataan masyarakat yang layak menerima bantuan. Banyaknya kemiskinan di tengah pusat perindustrian seolah menguatkan kesenjangan yang terjadi di kota berpenduduk 384.185 jiwa itu. Badan Pusat Statistik mencatat kesenjangan pendapatan masyarakat cenderung meningkat selama tiga tahun terakhir. Hasil pendataan BPS tahun 2005 menunjukkan rasio Gini Kota Cilegon paling tinggi (0,5) dibandingkan dengan daerah lain di Banten.

Rasio Gini merupakan salah satu indikator yang biasa digunakan untuk menunjukkan ketimpangan pendapatan di suatu daerah. Semakin besar angka rasio Gini, semakin tinggi ketimpangan pendapatan masyarakat di daerah tersebut. Sebagai daerah otonom, Kota Cilegon memang masih muda. Usianya baru delapan tahun sejak melepaskan diri sebagai kota administratif di bawah otonomi Kabupaten Serang. Namun, dalam bidang pembangunan dan perekonomian, perkembangan yang berlangsung di kota baja ini sungguh pesat. Realisasi pendapatan daerah Kota Cilegon, yang pada tahun 2000 hanya tercatat Rp 55,77 miliar, pada tahun 2004 menjadi Rp 258,64 miliar. Dan tahun 2006 melesat hingga sekitar Rp 400 miliar Pendapatan asli daerah (PAD) Kota Cilegon pun meningkat secara signifikan selama tujuh tahun terakhir. Pada tahun 2000 PAD kota ini tercatat Rp 16,7 miliar, tujuh tahun kemudian menjadi Rp 126,9 miliar atau meningkat lebih dari tujuh kali lipat.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Cilegon menyatakan tingginya nilai persentase PAD menjadikan Cilegon termasuk daerah yang dinilai paling mampu menghidupi dirinya sendiri. Sektor industri sudah dirintis sejak tahun 1960 dengan berdirinya pabrik baja yang saat itu bernama Pabrik Baja Trikora dan kemudian berubah nama menjadi Pabrik Baja Krakatau Steel pada tahun 1970. Sampai sekarang sektor industri memberi kontribusi tertinggi dalam pertumbuhan ekonomi di Cilegon. Industri Krakatau Steel berkembang sangat pesat dan memancing perkembangan industri-industri lain. Pada tahun 2005 sektor industri pengolahan menyumbang nyaris 60 persen dari total PDRB kota baja itu. Sektor industri memang andalan kota ini. Industri pengolahan yang terus berkembang mampu menyerap 30,1 persen atau sebanyak 34.300 tenaga kerja. Sektor lain yang mampu menyerap tenaga kerja cukup tinggi adalah kegiatan perdagangan, hotel, dan restoran. Sektor usaha tersebut hanya mampu menyerap 27.741 tenaga kerja. Di sisi lain, jumlah pencari kerja pun jauh lebih besar. Pada tahun 2006 pencari kerja di kota Cilegon mencapai 270.248 jiwa. Jumlah ini diikuti jumlah angka pengangguran terbuka yang tercatat sekitar 54.902 jiwa. Kurangnya lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga di Cilegon secara langsung berimbas pada membengkaknya kemiskinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: