UTS


Ujian Tengah Semester (UTS) diberikan saat perkuliahan telah mencapai 7 (tujuh) kali tatap muka. Bobot nilai UTS adalah sebesar 25 %. UTS diberikan kepada Mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan Administrasi dan Persyaratan Jumlah tatap Muka minimal yang ditentukan oleh lembaga.

8 Tanggapan to “UTS”

  1. fitri d padilah November 12, 2010 pada 4:39 am #

    KATA PENGANTAR
    Masalah perekonomian merupakan masalah yang tiada batasnya. Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara Asia, disamping China dan India yang tetap tumbuh positif saat Negara lain terpuruk akibat krisis finansial global. Ini merupakan suatu prestasi dan optimisme bagi masa depan perekonomian Indonesia. Dengan kondisi ini, pemerintah mengadakan Asean-China Trade Agreement (ACFTA) guna menghadapi persaingan global.
    Makalah ini disusun untuk membahas mengenai dampak ACFTA terhadap perekonomian Indonesia. Namun, selain itu penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Bisnis.
    Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih atas pihak-pihak yang terkait yang telah memberikan dukungan dan dorongan dalam bentuk apapun sehingga dapat terlaksananya penyusunan makalah ini. Semoga makalah in dapat bermanfaat bagi para pembaca.
    Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis berterima kasih atas saran dan kritik yang membangun agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat lebih disempurnakan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih.

    Cilegon, 12 november 2010

    penyusun

    DAFTAR ISI

    Kata Pengantar
    Daftar Isi
    Bab. I Pendahuluan
    a. Latar Belakang Masalah
    b. Maksud dan Tujuan
    c. Persiapan

    Bab. II Tinjauan Pustaka
    a. Absensi Strategis
    b. Dampak AFCTA

    Bab.III Penutup
    a. Kesimpulan
    b. Saran-saran

    Lampiran

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Persaingan global merupakan momok yang mengerikan bagi para pengusaha industri terutama industri menengah dan kecil. Dengan adanya ACFTA, hal in menjadi monster yang menyeramkan. Permasalahan ekonomi kerap kali muncul mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan meningkat. Maka dari itu, dampak akan perekonomian Indonesia adanya perjanjian AFTA-China harus lebih diperhatikan. Hal ini perlu adanya solusi, pemikiran dan sikap/ mental yang harus dipersiapkan dalam menghadapi persaingan global ini.
    B. Maksud dan Tujuan

    Tujuan diadakannya penyusunan makalah in adalah guna memenuhi salah satu
    tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.
    Maksud dari adanya penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
    a) menilai dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA
    b) mengetahui sejauh mana persiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
    c) Menganalisis strategi persiapan Indonesia yang dilakukan sebelum
    terlaksananya perjanjian ACFTA

    C. PERSIAPAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA
    ACFTA merupakan salah satu bentuk kerja sama liberalisasi ekonomi yang banyak dilakuakn Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini. Awal januari 2010 muai pemberlakuan mengenai Asean China Free Trade Agreement. Ini merupakan perang mutu, harga, kuantitas akan suatu pelayanan barang dan jasa serta industri pasar global China. Mengapa China? Seperti yang kita ketahui, harga barang produksi China relatif murah dan diminati konsumen Indonesia. Hal in itidak terlepas dari kualitas barang yang dihasilkan oleh China. Dengan adanya fenomena ini, Indonesia perlu mempersiapkan tim yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif memperkuat daya saing global.
    Pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia (Apindo) membetuk tim bersama ASEAN-China Free Trade Agreement. Tim ini berperan menampung keluhan terkait hambatan pengusaha menghadapi pelaksanaan ACFTA yang dimulai awal Januari 2010. Tim yang dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian, Deputi Menko (Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan) Edi Putra ini menyoroti kebijakan, potensi gangguan ekspor impor dan pemanfaatan peluang.
    Dengan adanya tim ini dapat dipantau perbandingan seberapa besar kekuatan barang kompetitor. Keluhan-keluhan dari para pengusaha bisa dipakai untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang perlu ditangani demi memperkuat daya saing industri nasional di ajang kompetisi ACFTA. Namun, pada kenyataannya, pembentukan tim tersebut kurang cukup membantu dalam menghadapi persaingan global. Hal ini dikarenakan masih minimnya daya saing produk Indonesia yang menjadi tombak perekonomian. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya daya saing. Salah satunya adalah peran dari strategi perdagangan dan industri. Tanpa strategi industri dan perdagangan, suatu negara tidak mungkin membangun industri yang kompetitif dan produktif.
    Apabila dilihat dari daya saing produk industri, indonesia masih minim dalam menghadapi persaingan, sedikitnya ada 14 sektor usaha yang harus dirundingkan ulang (renegoisasi) untuk penangguhan keikutsertaan dalam ACFTA selama 2-5 tahun kedepan.

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. ABSENSINYA STRATEGI INDONESIA
    Strategi merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap kompetitor. Cara menghadapi persaingan yang tepat dan efisien diperlukan guna memenangkan persaingan bebas. Namun, pada kenyataannya Indonesia absen strategi dibandingkan dengan China. Hal ini dapat kita lihat dari 4 aspek, yakni sebagai berikut :
    1) sebagai pusat industri di dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik merupakan faktor penting untuk menciptakan daya saing dan menarik investasi. Karena itu dalam penyediaan listrik, China memilih memanfaatkan batu bara yang melimpah. Sedangkan di Indonesia, rendahnya daya tarik industri manufaktur, antara lain akibat kegagalan PLN menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batu bara maupuan gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan China. Tetapi Indonesia lebih memilih menjadikan batu bara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun Industri.
    Demikian juga pada pengolahan timah, China tidak menjadikan komoditas ekspor yang didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang deep dan kompetitif. Sedangkan Indonesia dibiarkan untuk diolah negara lain.
    2) Dalam kebijakan keuangan, kegigihan China untuk tetap menjga nilai tukar yang lemah dilakukan sesuai strategi untuk menjaga daya saiang produk industri. Bahkan pada saat krisis, China membantu negara lain lewat special credit facility yakni memberikan kemudahan pembayaran bagi importir yang dilakukan untuk menjaga permintaan produk China. Sedangkan kebijakan Indonesia untuk memilih nilai tukar rupiah yang kuat juga telah menggeruk daya saing berbagai produk ekspor. Tanpa strategi industri, pilihan kebijakan fiskal dan moneter akhirnya memang tidak terarah dan akhirnya meguntungkan sektor keuangan daripada riil.
    3) Dalam hal sumber daya energi, Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika dan produksi. Namun, berbeda dengan China, dalam membangun industri elektronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku.

    B. DAMPAK ACFTA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

    Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan oleh Indonesia.
    A. Dampak Negatif

    Pertama: serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).

    Kedua: pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia, 9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya pedagang tekstil.
    Sederhananya, “Buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing? Lebih baik impor saja, murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri.” Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010. Misal, para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.
    Ketiga: karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?

    Keempat: jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.
    Kelima: peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.

    b) Dampak Positif dari adanya ACFTA
    Pertama: ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang tidak menjadi peserta ACFTA.

    Kedua : dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan volume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi.

    Ketiga : ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun disamping itu faktor laba bersih, prosentase pay out ratio atas laba juga menentukan besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena dengan adanya AC-FTA, BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murah dan dapat menjual produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula pemaparan Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Kerja ACFTA dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR RI, Rabu (20/1).Porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian produknya ke pasar Cina.

    BAB III
    PENUTUP

    A. Kesimpulan
    1) ACFTA merupakan ajang persaingan global dalam bidang produksi barang maupun jasa yang diadakan sesuai dengan perjanjian Indonesia dan China pada awal januari 2010.
    2) Kalahnya strategi persaingan bangsa Indonesia terhadap China mendominasi perekonomian semakin terpuruk. Sikap pesimisme para produsen indonesia mewarnai perang industri ini dan dijadikan estimasi Indonesia untuk kalah bersaing.
    3) ACFTA dipandang terlalu agresif untuk melakukan liberalisasi ekonomi Indonesia yang menjadikan keterpurukan Indonesia semakin dalam.
    4) ACFTA menimbulkan dampak Positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari adanya ACFTA mendominasi akan keterpurukan perekonomian Indonesia yang menjadi Bom Bunuh Diri bagi industri negara ini.

    B. Saran
    1) Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatan industri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industri manufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan, serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadap Market Domestic Obligation (MDO).

    2) UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringanan terhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.

  2. fitri d padilah kelas karyawan semester 2 November 12, 2010 pada 4:43 am #

    makalah tentang ACFTA

  3. muhammad ilham November 12, 2010 pada 6:08 am #

    NAMA : MUHAMMAD ILHAM
    KELAS : KARYAWAN
    SEMESTER : 2
    JURUSAN : AKUTANSI
    Tema : ACFTA

    KATA PENGANTAR

    Puji dan Syukur Saya panjatkan kepada ALLAH SWT, atas berkat dan rahmatnya akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah PENGANTAR BISNIS, makalah ini saya buat sesuai dengan tugas yang diberikan dosen.
    Saya sangat menyadari bahwa isi yang terdapat dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik di dalam penulisan dan kata-kata. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan yang saya miliki dan keterbatasan waktu, namun demi kesempurnaan penulisan makalah ini diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun serta sebagi bahan masukan dan pertimbangan.
    Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembacanya.

    Cilegon, 12 November 2010

    Penyusun

    DAFTAR ISI

    Latar Belakang
    Daftar Isi
    Bab. I Pendahuluan
    a. Latar Belakang
    b. Manfaat
    c. Landasan Teori

    Bab. II Tinjauan Pustaka
    a. Pembahasan
    b. Indonesia Sebagai Negara Agraris
    c. Cina Sebagai Negara Pabrik
    d. Prospek Antara Hubungan RI-Cina

    Bab.III Penutup
    a. Kesimpulan

    BAB I
    Pendahuluan
    A. Latar Belakang
    Asean – China Free Trade Aggrement (ACFTA) kian menjadi polemik bagi bangsa Indonesia. Mukadimah tahun ini menjadi momentum besar yang digunakan sebagai pengesahan perjanjian perdagangan internasional tersebut. Indonesia sendiri telah dengan gamblang mendeklarasikan pengesahan hubungannya dengan China sebagai partner dagang. Jadi secara tidak langsung, tahun ini perjanjian internasional tersebut telah legal untuk direalisasikan diseluruh lini perdagangan Indonesia yang terkait.

    Pemerintah seolah mengemban misi penting dalam pengesahan kerjasama yang menimbulkan berbagai reaksi keras dari para pebisnis tersebut. Asosiasi Industri Plastik, Aromatik, dan Olefin Indonesia (INAplas) meminta pemerintah menunda pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN (ACFTA) dari Januari 2010 menjadi 2015. Lebih jauh lagi INAplas sejak awal juga telah meminta penundaan FTA ASEAN dengan negara lain, di antaranya China, Korea, India, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

    Tanggapan senada juga muncul dari dunia tekstil Indonesia. Menurut Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismy, penerapan FTA ini berpotensi menurunkan penerimaan negara. Bahkan, pada tahun 2010 potensi defisit perdagangan tekstil dan garmen diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 miliar dollar AS.

    Reaksi keras tidak hanya datang dari pelaku bisnis, namun anggota DPR pun ikut angkat bicara. Komisi VI DPR Komisi IV meminta pemerintah melakukan renegoisasi perjanjian kerja sama ACFTA sekaligus menunda perjanjian di sektor-sektor yang terkait perdagangan bebas. Banyaknya keberatan yang muncul dari berbagai kalangan tersebut harusnya dijadikan pertimbangan bagi pemerintah untuk tetap melakukan pengimplementasian Free Trade Area dengan negeri tirai bambu tersebut di tanah air. Namun fakta yang ditemukan adalah FTA ASEAN-China justru resmi diratifikasi Indonesia pada 1 Januari 2010 yang ditandai dengan penghapusan bea masuk dalam program normal track.

    Gejolak masyarakat terkait penerapan hubungan dagang dengan China tersebut seakan diabaikan oleh pemerintah. Hal tersebut tentu saja mencengangkan dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejatinya Bapa factor utama yang menyebabkan pemerintah tetap kukuh memberlakukan Free Trade Area dengan China?

    B. Manfaat

    Diharapkan dengan melihat rasionalisasi pemerintah Indonesia dalam meratifiksi CAFTA dan mengaitkannya dengan teori yang relevan dapat menjawab kekhawatiran berbagai pihak serta untuk menemukan alasan mendasar pengimplementasian FTA di Indonesia itu sendiri.

    B. Landasan teori

    Dalam penelitian ini, teori yang akan digunakan adalah teori Liberalisme interdependensi atau dikenal pula dengan teori interdependensi negara. Teori interdependensi secara singkat dapat didefinisikankan sebagai suatu pergantungan antara satu sama lain atau suatu sikap/tindakan saling ketergantungan.

    BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA
    A, PEMBAHASAN

    Senada dengan definisi singkat dari Kamus Ilmiah Populer diatas, Dalam bukunya, Pengantar Studi Hubungan Internasional, Robert Jackson dan Georg Sorenson juga membahas mengenai teori Interdependensi. Di dalamnya dijelaskan bahwa teori tersebut berarti ketergantungan timbal-balik. Dalam artian antara dua komponen suatu negara yaitu rakyat dan pemerintah selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi dimanapun oleh tindakan rekannya di negara lain.

    Secara langsung semakin tinggi hubungan suatu negara dengan negara lain maka semakin tinggi pula tingkat pengaruh yang timbul dari luar tersebut. Hal itu juga sering dikaitkan dengan modernisasi yang mulai berkembang pesat pasca 1950an sejak berlangsungnya revolusi industri di belahan dunia.
    Dalam buku yang sama dijelaskan pula bahwa sebenarnya pembangunan ekonomi dan perdagangan luar negeri saat ini lebih efektif untuk mengembangkan perekonomian suatu negara dibandingkan dengan high politic seperti persenjataan yang justru membutuhkan biaya yang relatif besar.
    Tak dapat dinafikan, seiring berkembangnya teknologi dan informasi, batasan-batasan antarnegara pun kian menyusut. Definisi mengenai siapa sebenarnya aktor hubungan internasional pun kini telah meluas. Siapapun kini cenderung mampu mengadakan hubungan lintas negara dan menjadi aktor internasional. Hubungan internasional kini tak dapat lagi dipahami sebagai hubungan antar pemerintahan namun juga individu, perusahaan dan sejumlah organisasi yang terdiri di dalamnya.

    Tak ayal kerjasama antar aktor Hi pun kerap terjadi. Bahkan suatu negara pun tentu membutuhkan kerjasama dengan negara lainnya karena perbedaan sektor-sektor unggulan yang dimiliki tiap-tiap negara. Hal itulah yang lantas menjadi asumsi dasar teori interdependensi. Bahwasanya negara-negara di dunia cenderung untuk bekerjasama di bawah suatu perdagangan yang liberal karena faktor keterkaitan interdependensi tersebut.

    Pemaparan teori tersebut erat kaitannya dengan alasan yang kiranya melatari pengambilan keputusan oleh Pemerintah Indonesia yang seakan tanpa ragu memulai jalinan kerjasamanya dengan negara Panda tersebut. Untuk menganalisa mutualisme yang terjadi maka akan diuraikan dalam poin-poin sebagai berikut:
    B. Indonesia sebagai negara agraris

    Sejak duduk di bangku sekolah dasar, kita telah diajarkan betapa negara ini merupakan salah satu negara agraris terbesar di dunia. Hal tersebut didukung oleh data BPS jumlah petani di Indonesia mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Berdasarkan data Departemen Pertanian, luas lahan sawah Indonesia mencapai 7,6 juta ha. Potensi ini juga didukung oleh kekayaan komoditas dan kesuburan lahan yang sangat baik.

    Di tahun 2004, gaung ini pun semakin membesar dengan pernyataan pemerintah bahwa Indonesia sudah mencapai swasembada beras. Selain itu pemerintah juga menargetkan swasembada pangan 2014 yang jika mengacu pada FAO (Food and Agriculture Organization) diistilahkan sebagai ketahanan pangan (food security). Tidak hanya itu, dalam krisis ekonomi tahun 1997 pun hanya sektor ekonomi Indonesia lah yang mampu bertahan.

    C. China sebagai “negara pabrik”

    Tak dapat dinafikan, China seakan merangkak muncul sebagai salah satu kekuatan besar di era globalisasi ini. Semua sektor mereka miliki, mulai dari industri, sumber daya manusia, teknologi serta informasi telah berkembang begitu pesat di negeri ini. Namun hanya satu hal yang menjadi kelemahan bagi China. Negara tersebut tidaklah memiliki sektor agraris yang baik.

    China adalah negara yang begitu akrab dengan musibah kekeringan sejak decade 1990-an. Contohnya pada penghujung tahun 2009 lalu, Kekeringan melanda China bagian selatan telah dan menggagalkan panen serta menyurutkan air waduk dan sungai hingga ke tingkat terendah dalam sejarah.

    Begitu pula dengan tanaman lainnya yang notabene begitu membutuhkan air. Tanaman tersebut mulai kekeringan hingga menyebabkan gagal panen. Menurut laporan Kantor Pengawas Banjir dan Kekeringan Fujian, diperkirakan 1,3 juta are lahan pertanian mengalami kekeringan di Provinsi Fujian, dan 194.000 orang menderita kekurangan air minum. Lusinan waduk level airnya rendah, bahkan beberapa telah kering.

    Disamping itu China luarbiasa pesat dalam hal perindustrian, China telah menggeser Jepang sebagai negara industri terbesar dunia kedua, berdasarkan sebuah laporan Organisasi Pengembangan Industri PBB (UNIDO). Berdasarkan perkiraan UNIDO, kontribusi China pada total produksi dunia atau MVA telah mencapai 15,6% pada tahun 2009, sedikit lebih besar dibanding Jepang yang mencapai 15,4%. Sementara Amerika Serikat masih teratas dengan tingkat produksi mencapai 19%.

    Karena statusnya sebagai negara industri terbesar kedua itulah pantas bila istilah “negara pabrik” seakan terus melekat pada negara padat penduduk ini. Begitu banyak bahan baku yang diserah oleh China dari beragai negara melalui jalur impor untuk kemudian diproduksi menjadi barang jadi seperti yang kerap kita temui dengan harga miring di negeri ini.

    D. Prospek hubungan RI-China terhadap Indonesia

    Dari data-data diatas dapat diamati dengan jelas bahwasanya perdagangan antara RI-China jelas memiliki potensi yang cukup besar bagi perekonomian dua negara. Indonesia adalah negara agraris besar yang terbukti dengan surplus yang telah dicapai Indonesia sebesar US$2 miliar dari hasil ekspor bahan pertanian ke China pada 2010 ini.
    Sedangkan sedikitnya juga ada tiga sektor lain yang mengalami peningkatan ekspor. Yaitu obat-obatan tradisional seprti ekspor jamu Indonesia selama periode Januari-Oktober 2009 menunjukkan kenaikan dibandingkan priode yang sama tahun 2008.

    yaitu dari 8.294 juta dolar AS naik menjadi 9.676 juta dolar AS. Kemudian disusul sektor perhiasan yang meningkat jumlah ekspornya sebesar 26,04 persen. Produk tekstil pun tak kalah bersaing, dalam lima tahun terakhir (2004-2008) menunjukan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 7,21 persen. Di mana perolehan ekspor pada tahun 2008 mencapai 10.1 miliar dolar AS.

    Badan Pusat Statistik atau BPS menyebut bahwa untuk pertama kalinya ekspor Indonesia ke China pada awal tahun ini menempati posisi nomor dua dibandingkan negara-negara tujuan lainnya. Bahkan, ekspor nonmigas Indonesia ke China yang mencapai 1,011 miliar dollar AS mengalahkan ekspor ke Amerika Serikat yang mencapai 997,7 juta dollar AS.

    Tentu saja otomatis ekspor Indonesia tentu juga amat dibutuhkan negara tirai bambu tersebut yang pada dasarnya membutuhkan pasokan impor pangan dari negara agraris seperti Indonesia. Begitu pula dengan produksi ban yang mulai meningkat pesat di China dengan target pasar seluruh dunia, menyebabkan China membutuhkan suplai karet dalam jumlah besar dari Indonesia.

    Menjawab kekhawatiran berbagai kalangan terkait akan terpuruknya perdagangan di Indonesia bila CAFTA diratifikasi agaknya belum terbukti. Secara nasional ekspor non migas ke China sepanjang kuartal I/2010 meningkat hingga 113,3% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dan yang terpenting adalah Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Anton Supit menyebutkan kenaikan impor produk China tidak didominasi oleh barang jadi, tetapi berbentuk bahan baku penolong atau bahan modal yang akan digunakan untuk proses produksi lanjutan di dalam negeri.

    BAB III
    PENUTUP
    A. Kesimpulan

    Berdasarkan penguraian diatas, pada quartal I penerapannya, misi pemerintah Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terbilang efektif. Secara tidak langsung, teori interdepedensi yang melatari kaitan mutualisme dua negara juga terbukti karena hubungan kerjasama perdagangan RI-China sejauh ini telah menunjukkan gejala yang menguntungkan kedua negara.

    Program yang mungkin harus lebih dimasifkan oleh pemerintah adalah bagaimana untuk terus meningkatkan fasilitas dalam negeri guna menunjang berbagai sektor terutama pertanian. Insentif dan sosialisasi pertanian juga perlu ditingkatkan agar petani Indonesia kian mampu bersaing menciptakan produksi yang handal.
    Kemudian dalam hal birokrasi, pemerintah juga wajib mengawasi dengan ketat arus masuk barang melalui badan bea dan cukai. Standarisasi produk yang telah disepakati bersama harus terus dipantau pelaksanaannya. Barang-barang illegal di perbatasan juga sedapat mungkin kian ditertibkan guna penerapan mekanisme kontrol yang terarah.
    Kepada masyarakat luas ada baiknya pemerintah terus mengkampanyekan untuk tetap membeli produk dalam negeri yang kualitasnya juga harus diperhatikan oleh pemerintah agar layak bersaing dengan produk impor.

    Terakhir dalam hal investasi, berhubung agraris merupakan sektor penunjang negeri ini, pemerintah dirasa wajib mengontrol laju investasi modal asing dalam sektor tersebut agar tidak terjadi arus investasi yang justru akan merugikan satu pihak (baca: Indonesia). Tak lupa pula sosialisasi mengenai globalisasi di dunia, layaknya dipahami bukan sebagai hambatan, namun justru sebagai tantangan bagi rakyat negeri ini.

  4. fitri d padilah November 12, 2010 pada 6:17 am #

    NAMA : FITRI D PADILAH
    KELAS : KARYAWAN
    SEMESTER : 2
    JURUSAN : MANAJEMEN
    TEMA : DAMPAK DARI ACFTA

    KATA PENGANTAR
    Masalah perekonomian merupakan masalah yang tiada batasnya. Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara Asia, disamping China dan India yang tetap tumbuh positif saat Negara lain terpuruk akibat krisis finansial global. Ini merupakan suatu prestasi dan optimisme bagi masa depan perekonomian Indonesia. Dengan kondisi ini, pemerintah mengadakan Asean-China Trade Agreement (ACFTA) guna menghadapi persaingan global.
    Makalah ini disusun untuk membahas mengenai dampak ACFTA terhadap perekonomian Indonesia. Namun, selain itu penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Bisnis.
    Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih atas pihak-pihak yang terkait yang telah memberikan dukungan dan dorongan dalam bentuk apapun sehingga dapat terlaksananya penyusunan makalah ini. Semoga makalah in dapat bermanfaat bagi para pembaca.
    Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis berterima kasih atas saran dan kritik yang membangun agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat lebih disempurnakan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih.

    Cilegon, 12 november 2010

    penyusun

    DAFTAR ISI

    Kata Pengantar 1
    Daftar Isi 2
    Bab. I Pendahuluan 3
    a. Latar Belakang Masalah 3
    b. Maksud dan Tujuan 3
    c. Persiapan 4

    Bab. II Tinjauan Pustaka
    a. Absensi Strategis 5
    b. Dampak AFCTA 7

    Bab.III Penutup
    a. Kesimpulan 12
    b. Saran-saran 13

    Lampiran 14

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Persaingan global merupakan momok yang mengerikan bagi para pengusaha industri terutama industri menengah dan kecil. Dengan adanya ACFTA, hal in menjadi monster yang menyeramkan. Permasalahan ekonomi kerap kali muncul mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan meningkat. Maka dari itu, dampak akan perekonomian Indonesia adanya perjanjian AFTA-China harus lebih diperhatikan. Hal ini perlu adanya solusi, pemikiran dan sikap/ mental yang harus dipersiapkan dalam menghadapi persaingan global ini.
    B. Maksud dan Tujuan

    Tujuan diadakannya penyusunan makalah in adalah guna memenuhi salah satu
    tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.
    Maksud dari adanya penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
    a) menilai dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA
    b) mengetahui sejauh mana persiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
    c) Menganalisis strategi persiapan Indonesia yang dilakukan sebelum
    terlaksananya perjanjian ACFTA

    C. PERSIAPAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA
    ACFTA merupakan salah satu bentuk kerja sama liberalisasi ekonomi yang banyak dilakuakn Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini. Awal januari 2010 muai pemberlakuan mengenai Asean China Free Trade Agreement. Ini merupakan perang mutu, harga, kuantitas akan suatu pelayanan barang dan jasa serta industri pasar global China. Mengapa China? Seperti yang kita ketahui, harga barang produksi China relatif murah dan diminati konsumen Indonesia. Hal in itidak terlepas dari kualitas barang yang dihasilkan oleh China. Dengan adanya fenomena ini, Indonesia perlu mempersiapkan tim yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif memperkuat daya saing global.
    Pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia (Apindo) membetuk tim bersama ASEAN-China Free Trade Agreement. Tim ini berperan menampung keluhan terkait hambatan pengusaha menghadapi pelaksanaan ACFTA yang dimulai awal Januari 2010. Tim yang dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian, Deputi Menko (Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan) Edi Putra ini menyoroti kebijakan, potensi gangguan ekspor impor dan pemanfaatan peluang.
    Dengan adanya tim ini dapat dipantau perbandingan seberapa besar kekuatan barang kompetitor. Keluhan-keluhan dari para pengusaha bisa dipakai untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang perlu ditangani demi memperkuat daya saing industri nasional di ajang kompetisi ACFTA. Namun, pada kenyataannya, pembentukan tim tersebut kurang cukup membantu dalam menghadapi persaingan global. Hal ini dikarenakan masih minimnya daya saing produk Indonesia yang menjadi tombak perekonomian. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya daya saing. Salah satunya adalah peran dari strategi perdagangan dan industri. Tanpa strategi industri dan perdagangan, suatu negara tidak mungkin membangun industri yang kompetitif dan produktif.
    Apabila dilihat dari daya saing produk industri, indonesia masih minim dalam menghadapi persaingan, sedikitnya ada 14 sektor usaha yang harus dirundingkan ulang (renegoisasi) untuk penangguhan keikutsertaan dalam ACFTA selama 2-5 tahun kedepan.

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. ABSENSINYA STRATEGI INDONESIA
    Strategi merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap kompetitor. Cara menghadapi persaingan yang tepat dan efisien diperlukan guna memenangkan persaingan bebas. Namun, pada kenyataannya Indonesia absen strategi dibandingkan dengan China. Hal ini dapat kita lihat dari 4 aspek, yakni sebagai berikut :
    1) sebagai pusat industri di dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik merupakan faktor penting untuk menciptakan daya saing dan menarik investasi. Karena itu dalam penyediaan listrik, China memilih memanfaatkan batu bara yang melimpah. Sedangkan di Indonesia, rendahnya daya tarik industri manufaktur, antara lain akibat kegagalan PLN menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batu bara maupuan gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan China. Tetapi Indonesia lebih memilih menjadikan batu bara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun Industri.
    Demikian juga pada pengolahan timah, China tidak menjadikan komoditas ekspor yang didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang deep dan kompetitif. Sedangkan Indonesia dibiarkan untuk diolah negara lain.
    2) Dalam kebijakan keuangan, kegigihan China untuk tetap menjga nilai tukar yang lemah dilakukan sesuai strategi untuk menjaga daya saiang produk industri. Bahkan pada saat krisis, China membantu negara lain lewat special credit facility yakni memberikan kemudahan pembayaran bagi importir yang dilakukan untuk menjaga permintaan produk China. Sedangkan kebijakan Indonesia untuk memilih nilai tukar rupiah yang kuat juga telah menggeruk daya saing berbagai produk ekspor. Tanpa strategi industri, pilihan kebijakan fiskal dan moneter akhirnya memang tidak terarah dan akhirnya meguntungkan sektor keuangan daripada riil.
    3) Dalam hal sumber daya energi, Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika dan produksi. Namun, berbeda dengan China, dalam membangun industri elektronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku.

    B. DAMPAK ACFTA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

    Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan oleh Indonesia.
    A. Dampak Negatif

    Pertama: serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).

    Kedua: pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia, 9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya pedagang tekstil.
    Sederhananya, “Buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing? Lebih baik impor saja, murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri.” Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010. Misal, para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.
    Ketiga: karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?

    Keempat: jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.
    Kelima: peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.

    b) Dampak Positif dari adanya ACFTA
    Pertama: ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang tidak menjadi peserta ACFTA.

    Kedua : dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan volume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi.

    Ketiga : ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun disamping itu faktor laba bersih, prosentase pay out ratio atas laba juga menentukan besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena dengan adanya AC-FTA, BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murah dan dapat menjual produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula pemaparan Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Kerja ACFTA dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR RI, Rabu (20/1).Porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian produknya ke pasar Cina.

    BAB III
    PENUTUP

    A. Kesimpulan
    1) ACFTA merupakan ajang persaingan global dalam bidang produksi barang maupun jasa yang diadakan sesuai dengan perjanjian Indonesia dan China pada awal januari 2010.
    2) Kalahnya strategi persaingan bangsa Indonesia terhadap China mendominasi perekonomian semakin terpuruk. Sikap pesimisme para produsen indonesia mewarnai perang industri ini dan dijadikan estimasi Indonesia untuk kalah bersaing.
    3) ACFTA dipandang terlalu agresif untuk melakukan liberalisasi ekonomi Indonesia yang menjadikan keterpurukan Indonesia semakin dalam.
    4) ACFTA menimbulkan dampak Positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari adanya ACFTA mendominasi akan keterpurukan perekonomian Indonesia yang menjadi Bom Bunuh Diri bagi industri negara ini.

    B. Saran
    1) Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatan industri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industri manufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan, serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadap Market Domestic Obligation (MDO).

    2) UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringanan terhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.

    LAMPIRAN

  5. wenny setya putri November 14, 2010 pada 4:45 pm #

    MAKALAH

    PENGANTAR BISNIS

    ’’ACFTA DAN PENGARUH TERHADAP BISNIS DI BANTEN’’

    DISUSUN OLEH :

    NAMA : WENNY SETYA PUTRI
    NPM : 201003140
    KARYAWAN (2) AKUNTANSI

    STIE AL-KHAIRIYAH

    CITANGKIL-CILEGON

    KATA PENGANTAR
    Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima Masalah perekonomian merupakan masalah yang tiada batasnya. Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara Asia, disamping China dan India yang tetap tumbuh positif saat Negara lain terpuruk akibat krisis finansial global. Ini merupakan suatu prestasi dan optimisme bagi masa depan perekonomian Indonesia. Dengan kondisi ini, pemerintah mengadakan Asean-China Trade Agreement (ACFTA) guna menghadapi persaingan global.
    Makalah ini disusun untuk membahas mengenai dampak ACFTA terhadap perekonomian Indonesia. Namun, selain itu penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.
    kasih atas pihak-pihak yang terkait yang telah memberikan dukungan dan dorongan dalam bentuk apapun sehingga dapat terlaksananya penyusunan makalah ini. Semoga makalah in dapat bermanfaat bagi para pembaca.
    Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis berterima kasih atas saran dan kritik yang membangun agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat lebih disempurnakan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih.

    Penyusun

    Wenny setya putri

    DAFTAR ISI

    Kata Pengantar

    Daftar Isi

    Pendahuluan

    Bab I Persiapan Indonesia Dalam Menghadapi ACFTA

    Bab II Absennya Strategi Indonesia Untuk Menghadapi ACFTA

    BAB III Dampak ACFTA Terhadap Perekonomian Indonesia

    BAB IV Testimoni Dari Para Pelaku Ekonomi Akan Adanya ACFTA

    Penutup

    Daftar Pustaka

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Persaingan global merupakan momok yang mengerikan bagi para pengusaha industri terutama industri menengah dan kecil. Dengan adanya ACFTA, hal in menjadi monster yang menyeramkan. Permasalahan ekonomi kerap kali muncul mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan meningkat. Maka dari itu, dampak akan perekonomian Indonesia adanya perjanjian AFTA-China harus lebih diperhatikan. Hal ini perlu adanya solusi, pemikiran dan sikap/ mental yang harus dipersiapkan dalam menghadapi persaingan global ini.
    B. Maksud dan Tujuan

    Tujuan diadakannya penyusunan makalah in adalah guna memenuhi salah satu

    tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.

    Maksud dari adanya penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :

    a) menilai dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA

    b) mengetahui sejauh mana persiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan global

    c) Menganalisis strategi persiapan Indonesia yang dilakukan sebelum terlaksananya perjanjian ACFTA

    D.Isi

    Dalam penyusunan makalah ini, penulis membahas mengenai :

    a) BAB I Persiapan Indonesia Dalam Menghadapi ACFTA; bab ini berisi mengenai

    langkah-langkah yang dilakukan Indonesia sebelum terlaksananya Perjanjian Pasar global-China sebelum awal Januari 2010.

    b) BAB II Absensinya Strategi Indonesia dalam menghadapi ACFTA; dalam bab ini dibahas mengenai kelemahan strategi Indonesia sebagai bentuk dari ketidaksiapan Indonesia untuk bersaing dengan negara China.
    c) BAB III Dampak ACFTA terhadap Perekonomian Indonesia; dalam pembahasan kali ini penulis menganalisa mengenai dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA
    d) BAB IV Testimoni dari para pelaku Ekonomi terhadap adanya ACFTA; bab ini menjelaskan mengenai pendapat para produsen, pakar ekonomi dan pihak yang terkait akan perekonomian Indonesia.

    D. Metode Penelaahan

    Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode pustaka, berbagai

    referensi dari artikel koran serta pencarian situs website.

    BAB I
    PERSIAPAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI ACFTA
    ACFTA merupakan salah satu bentuk kerja sama liberalisasi ekonomi yang banyak dilakuakn Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini. Awal januari 2010 muai pemberlakuan mengenai Asean China Free Trade Agreement. Ini merupakan perang mutu, harga, kuantitas akan suatu pelayanan barang dan jasa serta industri pasar global China. Mengapa China? Seperti yang kita ketahui, harga barang produksi China relatif murah dan diminati konsumen Indonesia. Hal in itidak terlepas dari kualitas barang yang dihasilkan oleh China. Dengan adanya fenomena ini, Indonesia perlu mempersiapkan tim yang diharapkan mampu memberi kontribusi positif memperkuat daya saing global.
    Pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia (Apindo) membetuk tim bersama ASEAN-China Free Trade Agreement. Tim ini berperan menampung keluhan terkait hambatan pengusaha menghadapi pelaksanaan ACFTA yang dimulai awal Januari 2010. Tim yang dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian, Deputi Menko (Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan) Edi Putra ini menyoroti kebijakan, potensi gangguan ekspor impor dan pemanfaatan peluang.
    Dengan adanya tim ini dapat dipantau perbandingan seberapa besar kekuatan barang kompetitor. Keluhan-keluhan dari para pengusaha bisa dipakai untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang perlu ditangani demi memperkuat daya saing industri nasional di ajang kompetisi ACFTA. Namun, pada kenyataannya, pembentukan tim tersebut kurang cukup membantu dalam menghadapi persaingan global. Hal ini dikarenakan masih minimnya daya saing produk Indonesia yang menjadi tombak perekonomian. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya daya saing. Salah satunya adalah peran dari strategi perdagangan dan industri. Tanpa strategi industri dan perdagangan, suatu negara tidak mungkin membangun industri yang kompetitif dan produktif.
    Apabila dilihat dari daya saing produk industri, indonesia masih minim dalam menghadapi persaingan, sedikitnya ada 14 sektor usaha yang harus dirundingkan ulang (renegoisasi) untuk penangguhan keikutsertaan dalam ACFTA selama 2-5 tahun ke8 Maka dari itu, kalangan industri harus melakukan pembenahan karena persaingna terbuka tidak bisa dihindari.
    BAB II
    ABSENSINYA STRATEGI INDONESIA
    Strategi merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap kompetitor. Cara menghadapi persaingan yang tepat dan efisien diperlukan guna memenangkan persaingan bebas. Namun, pada kenyataannya Indonesia absen strategi dibandingkan dengan China. Hal ini dapat kita lihat dari 4 aspek, yakni sebagai berikut :
    1) sebagai pusat industri di dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik merupakan faktor penting untuk menciptakan daya saing dan menarik investasi. Karena itu dalam penyediaan listrik, China memilih memanfaatkan batu bara yang melimpah. Sedangkan di Indonesia, rendahnya daya tarik industri manufaktur, antara lain akibat kegagalan PLN menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batu bara maupuan gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan China. Tetapi Indonesia lebih memilih menjadikan batu bara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun Industri. Demikian juga pada pengolahan timah, China tidak menjadikan komoditas ekspor yang didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang deep dan kompetitif. Sedangkan Indonesia dibiarkan untuk diolah negara lain.
    2) Dalam kebijakan keuangan, kegigihan China untuk tetap menjga nilai tukar yang lemah dilakukan sesuai strategi untuk menjaga daya saiang produk industri. Bahkan pada saat krisis, China membantu negara lain lewat special credit facility yakni memberikan kemudahan pembayaran bagi importir yang dilakukan untuk menjaga permintaan produk China. Sedangkan kebijakan Indonesia untuk memilih nilai tukar rupiah yang kuat juga telah menggeruk daya saing berbagai produk ekspor. Tanpa strategi industri, pilihan kebijakan fiskal dan moneter akhirnya memang tidak terarah dan akhirnya meguntungkan sektor keuangan daripada riil.
    3) Dalam hal sumber daya energi, Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika dan produksi. Namun, berbeda dengan China, dalam membangun industri elektronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku.

    BAB III
    DAMPAK ACFTA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

    Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan oleh Indonesia ;

    a) Dampak Negatif

    Pertama: serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telahmengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).

    Kedua: pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia, 9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya pedagang tekstil
    sederhananya, “Buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing? Lebih baik impor
    saja, murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri.” Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010. Misal, para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.

    Ketiga: karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?

    Keempat: jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.

    Kelima: peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.

    b) Dampak Positif dari adanya ACFTA

    Pertama: ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari
    investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang
    tidak menjadi peserta ACFTA

    Kedua : dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi

    Ketiga : ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun disamping itu faktor laba bersih, prosentase pay out ratio atas laba juga menentukan besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena dengan adanya AC-FTA, BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murah dan dapat menjual produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula Porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian produknya ke pasar Cina.

    BAB IV
    TESTIMONI ACFTA
    Dengan adanya ACFTA terjadilah Pros dan cons diantara para pelaku ekonom, maka dari itu
    terdapat beberapa testimoni mengenai ACFTA yang berdampak bagi perekonomian
    Indonesia.
    1) Ketua Komisi VI DPR F-Partai Golkar, Airlangga Hartarto : “Kita minta kepada pemerintah secepatnya membuat kebijakan yang tepat untuk menyambut ACFTA, karena kita paham tak semua sektor riil itu siap menghadapi ACFTA, jadi memang ada beberapa yang belum siap, bahkan tak siap,” katanya,.
    2) Jakarta, 19 Januari 2010 (Business News) : Dengan dibukanya perdagangan ASEAN – China Free Trade Agreement (AC-AFTA) cukup mengerikan bagi Indonesia”, ujar Benny A. Kusbini selaku Ketua Harian Dewan HortikulturaIndonesia, dalam perbincangannya dengan Business News, Senin (19/1) mengatakan, sebab tanpa ada FTA saja, produk China sudah banyak melanglang buana di Indonesia.
    3) Harga menentukan kualitas begitu bukan pak Erias, “You Get What You Pay For”. Barang2 pasar luar yang memang memiliki selera tinggi? (Herdy FN, mahasiswa Trisakti)
    China mungkin cocok untuk masyarakat kita yang daya belinya rendah, sedangkan dengan harga dan kualitas produk lokal yang tinggi bisakah kita “menggempur

    4) Uki Masduki Mahasiswa STIE Ahmad Dahlan, Jakarta:
    Dengan adanya kesepakatan perdagangan bebas dengan negara-negara lain, Indonesia
    diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya.bukan karena dilatarbelakangi ketakutan terhadap dampak trade diversion, yaitu ketakutan kehilangan potensi ekspor ke negara tertentu. Dengan jumlah penduduk China yang besar dan tingkat tarif relatif rendah, ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk memasuki pasar Negeri Tirai Bambu itu.

    PENUTUP

    Kesimpulan

    1) ACFTA merupakan ajang persaingan global dalam bidang produksi barang maupun jasa yang
    diadakan sesuai dengan perjanjian Indonesia dan China pada awal januari 2010.

    2) Kalahnya strategi persaingan bangsa Indonesia terhadap China mendominasi perekonomian semakin terpuruk. Sikap pesimisme para produsen indonesia mewarnai perang industri ini dan dijadikan estimasi Indonesia untuk kalah bersaing.

    3) ACFTA dipandang terlalu agresif untuk melakukan liberalisasi ekonomi Indonesia
    yang menjadikan keterpurukan Indonesia semakin dalam.

    4) ACFTA menimbulkan dampak Positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari adanya ACFTA mendominasi akan keterpurukan perekonomian Indonesia yang menjadi Bom Bunuh Diri bagi industri negara ini.

    Saran
    1) Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatan industri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industri manufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan, serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadap Market Domestic Obligation (MDO).

    2) UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringanan terhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.

    3) Pemerintah harus tetap konsisten dengan kewajiban penggunaan bahan baku lokal
    untuk berbagai sektor infrastruktur

    DAFTAR PUSTAKA

     Koran Media Indonesia, edisi senin 21 Desember 2009
     Koran Media Indonesia, edisi senin 28 Desember 2009
     Koran Media Indonesia, edisi Selasa 19 Januari 2010-01-20
     Koran KOMPAS, edisi Rabu 30 Desember 2009
     Situs http://www.bataviase. Com
     Situs http://www.okezone.com
     Situs pencarian http://www.google.com
     Situs http://www.Inilah.com
     Berbgai macam Blog

  6. sugitrino AHS November 24, 2010 pada 7:34 am #

    Makalah Pengantar Bisnis
    Nama : Sugitriono AHS
    NPM : 201002847
    Kelas/semester : Karyawan/2
    Jurusan : Manajemen
    Judul makalah : ACFTA DI BANTEN

    KATA PENGANTAR
    Puji dan Syukur Saya panjatkan kepada ALLAH SWT, atas berkat dan rahmatnya akhirnya kami dapat menyelesaikan tugas Makalah untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah PENGANTAR BISNIS, makalah ini saya buat sesuai dengan tugas yang diberikan dosen.
    Saya sangat menyadari bahwa isi yang terdapat dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik di dalam penulisan dan kata-kata. Hal ini disebabkan karena keterbatasan kemampuan yang saya miliki dan keterbatasan waktu, namun demi kesempurnaan penulisan makalah ini diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun serta sebagi bahan masukan dan pertimbangan.
    Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi pembacanya.
    Cilegon, 12 November 2010
    Penyusun
    DAFTAR ISI
    Kata Pengantar
    Daftar Isi
    Bab I Pendahuluan
    A. Latar Belakang Masalah
    B. Maksud dan Tujuan
    C. Metode penelaah
    Bab II Pembahasan
    A. sejarah berdirinya ACFTA
    B. ACFTA Absensi Strategis
    C. Dampak AFCTA terhadap perekonomian di banten
    Bab III Penutup
    A. Kesimpulan
    B. Saran-saran

    BAB I PENDAHULUAN
    A. Latar belakang masalah
    Tepat 1 Januari 2010, Indonesia secara resmi masuk dalam pelaksanaan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Banyak kalangan dalam negeri khawatir dengan diberlakukannya ACFTA ini karena melihat perekonomian Indonesia, baik dalam tataran makro dan mikro tak sebanding dengan dominasi ekonomi China.
    Kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan. Data statistik Kementerian Perdagangan RI, misalnya menunjukkan, walaupun jumlah total perdagangan RI dan China meningkat cukup drastis dari 8,7 miliar dollar AS pada 2004 menjadi 26,8 miliar dollar AS pada 2008, Indonesia yang biasanya mencatat surplus dalam perdagangan dengan China, belakangan ini mulai menunjukkan defisit. Tahun 2008, Indonesia mencatat defisit sebesar 3,6 miliar AS.
    Untuk skala nasional data tersebut menunjukkan akan adanya dampak dari ACFTA terhadap perekonomian nasional. Bagaimanakah dampaknya terhadap Provinsi Banten? Apakah akan berdampak positif terhadap Banten, atau sebaliknya?
    Dalam makalah yang singkat ini, saya akan memaparkan kumingkinan-kemungkinan yang akan berdampak pada perekonomian mikro dan perekonomian makro di Indonesia dan dampaknya terhadap Provinsi Banten secara langsung.
    Reaksi keras tidak hanya datang dari pelaku bisnis, namun anggota DPR pun ikut angkat bicara. Komisi VI DPR Komisi IV meminta pemerintah melakukan renegoisasi perjanjian kerja sama ACFTA sekaligus menunda perjanjian di sektor-sektor yang terkait perdagangan bebas. Banyaknya keberatan yang muncul dari berbagai kalangan tersebut harusnya dijadikan pertimbangan bagi pemerintah untuk tetap melakukan pengimplementasian Free Trade Area dengan negeri tirai bambu tersebut di tanah air. Namun fakta yang ditemukan adalah FTA ASEAN-China justru resmi diratifikasi Indonesia pada 1 Januari 2010 yang ditandai dengan penghapusan bea masuk dalam program normal track.
    Gejolak masyarakat terkait penerapan hubungan dagang dengan China tersebut seakan diabaikan oleh pemerintah. Hal tersebut tentu saja mencengangkan dan menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejatinya Bapa factor utama yang menyebabkan pemerintah tetap kukuh memberlakukan Free Trade Area dengan China?
    B. Maksud dan Tujuan
    Diharapkan dengan melihat rasionalisasi pemerintah Indonesia dalam meratifiksi CAFTA dan mengaitkannya dengan teori yang relevan dapat menjawab kekhawatiran berbagai pihak serta untuk menemukan alasan mendasar pengimplementasian FTA di Indonesia itu sendiri.
    Tujuan diadakannya penyusunan makalah in adalah guna memenuhi salah satu
    tugas mata kuliah Pengantar bisnis.
    C. Metode Penelaahan
    Dalam penyusunan makalah ini, penulis menggunakan metode pustaka, berbagai
    referensi dari artikel koran serta pencarian situs website.
    BAB II PEMBAHASAAN
    A. Sejarah berdirinya ACFTA
    Sebagai salah satu negara anggota dari ASEAN, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia harus ikut serta dalam perjanjian yang dilakukan oleh negara-negara ASEAN. Kesepakatan atau perjanjian perdagangangan antara negara-negara ASEAN Cina yang disebut ACFTA ( Asean China Free Trade Area ).
    Perjanjian yang menyangkut perdagangan bebas ini identik dengan hubungan kerjasama dagang antar negara anggota ASEAN ataupun negara non-anggota. Dalam impementasinya perdagangan bebas harus memperhatikan beberapa aspek yang dapat mempengaruhi prinsip perdagangan yaitu seperti prinsip sentral dari keuntungan komparatif (Comparatif Advantege) selain itu juga, kita harus memperhatikan pro dan kontra dibidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana jenis mata uang (valuta asing) yang diperdagangkan berdasarkan kurs tukar valuta asing. Asean China Free Trade Area (ACFTA) yaitu dimana tidak adanya hambatan tarif (bea masuk 0-5 %) maupun hambatan non-tarif bagi negara-negara ASEAN dan juga China .
    Tujuan dari ACFTA sendiri itu adalah memperkuat dan meningkatkan kerja sama antar negara terkait, yaitu meliberisasikan perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan atau penghapusan tarif. Kesepakatan perjanjian itu mencakup dalam tiga bidang yang strategis yaitu: perdagangan barang-barang, jasa, dan juga investasi. Perjanjian ACFTA adalah kerja sama dalam bidang ekonomi, Economic Co-opertaion between Asean and people’s Republic of China, yaitu kerjasama antara seluruh anggota daripada ASEAN dengan Negara Cina.
    Perjanjian ini bermula di tandatangani pada tanggal 5 November 2002 yang melahirkan tiga buah kesepakatan, Kesepakatan pertama, pada tanggal 29 November 2002 yang melahirkan suatu kesepakatan di bidang barang (Agreement on Trade in Goods), lalu diadakannya kesepakatan kedua, pada tanggal 14 Januari 2007 yang menghasilkan suatu bentuk kesepakatan di bidang perdagangan dan jasa (Agreement on Trade in Service), dan adanya kesepakatan ketiga, pada tanggal 15 Agustus 2007 yang menghasilkan kesepakatan di bidang investasi (Agreement on Investation). Pada tanggal 1 Januari 2010 kesepakatan atau perjanjian perdagangngan ACFTA mulai diberlakuakan.

    B. ACFTA di Banten
    Pemberlakuan ASEAN-China Ftee Trade Aggre-ment (ACFTA) berdampak bagi produksi industri di sebagian besar wilayah Indonesia, namun tidak bagi industri di Banten. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten, Hudaya mengatakan hal itu dapat dibuktikan berdasarkan data. Hingga akhir triwulan 1 tahun 2010. produksi industri besar, kecil maupun menengah di Banten, untuk nilai ekspor justru mengalami kenaikan sebesar 20,28 persen.
    Angka ekspor merupakan bukti industri di Banten, sanggup bertahan terhadap gempuran produk-produk dari China. Strateginya, agar industri Banten tetap stabil dari dampak pemberlakukan ACFTA yaitu dengan mempertahankan kondisi nilai ekspor tetap pada angka yang sama hingga akhir triwulan tahun ini.
    Bila kondisi ini akan tetap sampai akhir triwulan tahun 2010, maka ekonomi di Banten tetap stabil dan kondusif. Adapun Januari 2010, nilai ekspor industri Banten mencapai 586 juta US dolar atau naik 20.28 persen dari Desember 2009. Dari total ekspor tersebut, sebanyak 58 persen disumbang dari lima komoditas industri yakni alas kaki, bahan baku mineral, tembaga atau logam, plastik, dan kertas/karton.
    Untuk kontribusi industri tekstil pada nilai ekspor Banten hanya mencapai 5 persen. Namun demikian kita perlu mewaspadai terutama bakal dampak yang perlu dikhawatirkan akibat CAFTA itu adalah pada komoditas yang diproduksi oleh industri kecil menengah (IKM) di Banten. Seperti pakaian, komponen elektronik dan logam.
    Kelompok IKM akan mengalami dampak akibat ACFTA. sebab diperkirakan sampai akhir triwulan II gempuran produk China akan makin besar. Terkait itu. Kita harus berupaya mengantisipasi dengan meningkatkan kualitas berbagai macam produk dalam negeri yang akan diperjualbelikan baik di dalam dan luar. Untuk itu semua produk bukan hanya memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) tapi juga harus memiliki Nomor Registrasi Produk (NRP).
    Pengaruh ACFTA terhadap Provinsi Banten sangat signifikan karena sebelum diberlakukannya ACFTA, perekonomian Banten defisit 25,81 % yang disebabkan nilai ekspor lebih rendah dibandingkan dengan nilai impor.
    Sejumlah produk yang akan terkena dampak negatif dari ACFTA ini, di antaranya produk tekstil, baja, dan kosmetik. Dampaknya, industri lokal tidak dapat menaikan harga barang karena barang impor lebih murah dibandingkan harga barang ekspor. Saat barang naik, pelaku usaha selalu dibayangi mahalnya nilai produksi yang akan menambah nilai harga pokok penjualan dan tidak dapat bersaing dengan produk impor terutama dari China yang harganya murah dan gampang ditemukan di pasar.
    Adapun sektor yang terkena dampak negatif ialah sektor industri karena tingginya biaya ekonomi serta buruknya infrastuktur fisik dan nonfisik industri di dalam negeri. Sektor lain yakni perdagangan, karena biaya produksi yang tinggi dan banyaknya barang China yang masuk secara legal maupun ilegal dengan harga sangat murah.
    Antisipasi yang mungkin bisa dicapai yaitu tunda ACFTA sampai barang atau jasa Indonesia bisa siap dengan persaingan ketat di antara negara Asean dan dilakukan modifikasi pada barang atau jasa di Indonesia,” jelas Eli.
    Pemerintah melakukan upaya komprehensif dalam rangka melindungi masyarakat dari kegoncangan yang bisa berdampak pada kemiskinan. Adapun antisipatif untuk Banten, pemerintah melaksanakan kegiatan pengawasan barang dan jasa secara berkala terhadap barang China.
    C. Dampak AFCTA Terhadapa pengaruh perekonomian di banten
    Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan oleh Indonesia.
    A. Dampak Negatif
    Pertama: serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri). Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).
    Kedua: pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya besar (Bisnis Indonesia, 9/1/2010). Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya pedagang tekstil.
    Sederhananya, “Buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing? Lebih baik impor saja, murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri.” Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010. Misal, para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.
    Ketiga: karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk “tetek bengek” seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?
    Keempat: jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.
    Kelima: peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.
    b) Dampak Positif dari adanya ACFTA
    Pertama: ACFTA akan membuat peluang kita untuk menarik investasi. Hasil dari investasi tersebut dapat diputar lagi untuk mengekspor barang-barang ke negara yang tidak menjadi peserta ACFTA.
    Kedua : dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan volume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi.
    Ketiga : ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Namun disamping itu faktor laba bersih, prosentase pay out ratio atas laba juga menentukan besarnya dividen atas laba BUMN. Keoptimisan tersebut, karena dengan adanya AC-FTA, BUMN akan dapat memanfaatkan barang modal yang lebih murah dan dapat menjual produk ke Cina dengan tarif yang lebih rendah pula pemaparan Menkeu Sri Mulyani dalam Rapat Kerja ACFTA dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR RI, Rabu (20/1).Porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian produknya ke pasar Cina.
    Adanya kesepakatan negara Asean dengan China tentang perdagangan bebas Asean China Free Trade Agrement (ACFTA) akan memiliki potensi terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) di Provinsi Banten, hal ini didasarkan adanya keluhan dari kalangan pengusaha, setelah diberlakukannya perdagangan bebas.
    Dampak terhadap perdagangan bebas itu sangat besar. Bahkan dampak Ini terjadi juga hampir di seluruh Indonesia. Perdagangan bebas akan berdampak sangat buruk bagi kegiatan industri di Banten, buntutnya akan terjadi PHK masal.
    Saat ini akibat kesepakatan tersebut, sejumlah serikat buruh sudah memberikan reaksi dengan aksi unjukrasa di sejumlah wilayah. Tentunya berangkat dari mulai lesunya produksi akibat derasnya produk impor yang datang tidak terkendali.
    Berbeda halnya dengan pendapat dari Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dis nakertrans) Provinsi Banten, Eutik Suarta. “PHK secara besar-besaran tidak akan terjadi di Banten meskipun perdagangan bebas diberlakukan, alasanya, hampir 80 persen yang ada di Provinsi Banten dalam perusahaan yang hasil produksinya dikirim luar negeri.”
    Dia juga menambahakan “Menurut hemat saya, kalau perusahaan ekspor itu tidak akan berdampak terhadap PHK. malah sebaliknya, perusahaan akan lebih banyak membutuhkan tenaga kerja lagi, karena permintaan di luar meningkat.” katanya Jumat kemarin.
    Indikasi peningkatan itu jelas terlihat dari target penempatan kerja untuk tahun 2010 sebanyak 40.000 lebih, tak beda dari tahun sebelumnya.Target kami dalam menyerap tenaga kerja tidak berbeda dari tahun sebelumnya. Program kerja kami ke depan untuk menjaring itu semua akan melakukan job fair seperti tahun 2009. Serta akan memberikan pelatihan-pelatihan.” Katanya.
    Gejolakpun terjadi di Tangerang, terhadap kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) pada 2010 ini sebagai bukti ketidaksiapan daerah dan pelaku usaha. Tangerang berharap kesepakatan tersebut dapat di tunda, dalam rentang waktu penundaan tersebut, pemerintah, khususnya pemerintah daerah lebih serius mendorong iklim usaha yang kondusif dan kompetitif.
    Hal ini adalah jawaban atas aspirasi buruh yang berunjuk rasa di Gedung DPRD Kabupaten Tangerang, Kamis (21/1). Buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi meminta DPRD Kabupaten Tangerang membuat surat rekomendasi penolakan terhadap perdagangan bebas ASEAN-China atau ACFTA.
    Sebelumnya, untuk menghadapi ACFTA ini, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten akan membatasi produk China masuk ke wilayah Banten.
    Apabila tidak dibatasi, produk China dapat dengan mudah akan menggilas dan merebut pasar produk local. Lagi-lagi karena kurangnya persiapan produk local dalam persaingan. Produk China sangat berpotensi menjadi ancaman bagi produk-produk dalam negeri. Sebab, produk China harganya terjangkau oleh masyarakat. Produk-produk China yang banyak diproduksi di Kota dan Kabupaten Tangerang antara lain tekstil dan sepatu. Pabriknya menyebar di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.
    BAB III PENUTUP
    A. Simpulan
    Berdasarkan penguraian diatas, pada quartal I penerapannya, misi pemerintah Indonesia untuk menjalin kerjasama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terbilang efektif. Secara tidak langsung, teori interdepedensi yang melatari kaitan mutualisme dua negara juga terbukti karena hubungan kerjasama perdagangan RI-China sejauh ini telah menunjukkan gejala yang menguntungkan kedua negara.
    Program yang mungkin harus lebih dimasifkan oleh pemerintah adalah bagaimana untuk terus meningkatkan fasilitas dalam negeri guna menunjang berbagai sektor terutama pertanian. Insentif dan sosialisasi pertanian juga perlu ditingkatkan agar petani Indonesia kian mampu bersaing menciptakan produksi yang handal.
    Kemudian dalam hal birokrasi, pemerintah juga wajib mengawasi dengan ketat arus masuk barang melalui badan bea dan cukai. Standarisasi produk yang telah disepakati bersama harus terus dipantau pelaksanaannya. Barang-barang illegal di perbatasan juga sedapat mungkin kian ditertibkan guna penerapan mekanisme kontrol yang terarah.
    Kepada masyarakat luas ada baiknya pemerintah terus mengkampanyekan untuk tetap membeli produk dalam negeri yang kualitasnya juga harus diperhatikan oleh pemerintah agar layak bersaing dengan produk impor.
    Terakhir dalam hal investasi, berhubung agraris merupakan sektor penunjang negeri ini, pemerintah dirasa wajib mengontrol laju investasi modal asing dalam sektor tersebut agar tidak terjadi arus investasi yang justru akan merugikan satu pihak (baca: Indonesia). Tak lupa pula sosialisasi mengenai globalisasi di dunia, layaknya dipahami bukan sebagai hambatan, namun justru sebagai tantangan bagi rakyat negeri ini.
    B. Saran
    1) Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatan industri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industri manufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan, serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadap Market Domestic Obligation (MDO).
    2) UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringanan terhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.
    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.bataviase. Com
    http://www.Inilah.com
    http://www.google.com
    http://www.okezone.com
    http://radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=52586 http://www.pusdima-fis.co.cc/2010/03/dampak-positif-dan-negatif-acfta.html

  7. magrenol November 24, 2010 pada 7:35 am #

    Makalah Pengantar Bisnis
    Nama : Magrenol
    NPM : 201003136
    Kelas/semester : Karyawan/2
    Jurusan : Akutansi
    Judul makalah : ACFTA
    KATA PENGANTAR
    Masalah perekonomian merupakan masalah yang tiada batasnya. Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara Asia, disamping China dan India yang tetap tumbuh positif saat Negara lain terpuruk akibat krisis finansial global. Ini merupakan suatu prestasi dan optimisme bagi masa depan perekonomian Indonesia. Dengan kondisi ini, pemerintah mengadakan Asean-China Trade Agreement (ACFTA) guna menghadapi persaingan global.
    Makalah ini disusun untuk membahas mengenai dampak ACFTA terhadap perekonomian Indonesia. Namun, selain itu penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengantar Bisnis.
    Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih atas pihak-pihak yang terkait yang telah memberikan dukungan dan dorongan dalam bentuk apapun sehingga dapat terlaksananya penyusunan makalah ini. Semoga makalah in dapat bermanfaat bagi para pembaca.
    Penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis berterima kasih atas saran dan kritik yang membangun agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat lebih disempurnakan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih.
    Cilegon, 12 november 2010
    Penyusun
    DAFTAR ISI
    Kata Pengantar
    Daftar Isi
    Bab. I Pendahuluan
    A. Latar Belakang Masalah
    B. Maksud dan Tujuan
    C. Persiapan
    Bab II PEMBAHASAN
    A. Absennya Strategi Indonesia Untuk Menghadapi ACFTA
    B. ACFTA Merupakan Produk Globalisasi
    Bab III penutup
    A. Simpulan
    B. Saran
    BAB I PENDAHULUAN
    A. Latar Belakang
    Persaingan global merupakan momok yang mengerikan bagi para pengusaha industri terutama industri menengah dan kecil. Dengan adanya ACFTA, hal in menjadi monster yang menyeramkan. Permasalahan ekonomi kerap kali muncul mengenai berbagai pemenuhan kebutuhan masyarakat yang semakin beragam dan meningkat. Maka dari itu, dampak akan perekonomian Indonesia adanya perjanjian AFTA-China harus lebih diperhatikan. Hal ini perlu adanya solusi, pemikiran dan sikap/ mental yang harus dipersiapkan dalam menghadapi persaingan global ini.
    B. Maksud dan Tujuan
    Tujuan diadakannya penyusunan makalah in adalah guna memenuhi salah satu
    tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia.
    Maksud dari adanya penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
    a) menilai dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA
    b) mengetahui sejauh mana persiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
    c) Menganalisis strategi persiapan Indonesia yang dilakukan sebelum
    terlaksananya perjanjian ACFTA
    BAB II PEMBAHASAN
    A. Absensinya Strategi Indonesia untuk menghadapi ACFTA
    Strategi merupakan hal pokok yang harus dilaksanakan oleh setiap kompetitor. Cara menghadapi persaingan yang tepat dan efisien diperlukan guna memenangkan persaingan bebas. Namun, pada kenyataannya Indonesia absen strategi dibandingkan dengan China. Hal ini dapat kita lihat dari 4 aspek, yakni sebagai berikut :
    1) sebagai pusat industri di dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik merupakan faktor penting untuk menciptakan daya saing dan menarik investasi. Karena itu dalam penyediaan listrik, China memilih memanfaatkan batu bara yang melimpah. Sedangkan di Indonesia, rendahnya daya tarik industri manufaktur, antara lain akibat kegagalan PLN menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batu bara maupuan gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan China. Tetapi Indonesia lebih memilih menjadikan batu bara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun Industri. Demikian juga pada pengolahan timah, China tidak menjadikan komoditas ekspor yang didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang deep dan kompetitif. Sedangkan Indonesia dibiarkan untuk diolah negara lain.
    2) Dalam kebijakan keuangan, kegigihan China untuk tetap menjga nilai tukar yang lemah dilakukan sesuai strategi untuk menjaga daya saiang produk industri. Bahkan pada saat krisis, China membantu negara lain lewat special credit facility yakni memberikan kemudahan pembayaran bagi importir yang dilakukan untuk menjaga permintaan produk China. Sedangkan kebijakan Indonesia untuk memilih nilai tukar rupiah yang kuat juga telah menggeruk daya saing berbagai produk ekspor. Tanpa strategi industri, pilihan kebijakan fiskal dan moneter akhirnya memang tidak terarah dan akhirnya meguntungkan sektor keuangan daripada riil.
    3) Dalam hal sumber daya energi, Indonesia hanya memiliki industri perakitan (hulu) untuk produk elektronika dan produksi. Namun, berbeda dengan China, dalam membangun industri elektronika yang terintegrasi mulai dari pembangunan industri pendukung dengan mengolah bahan baku.
    C. ACFTA Merupakan Produk Globalisasi
    Era globalisasi dari hari ke hari terus menerus akan berlangsung, kondisi kehidupan dalam proses globalisasi di setiap negara terkesan meningkat. Apalagi jika diukur oleh indikator-indikator yang luas salah satunya adalah dalam hal ekonomi. Negara-negara maju dan kuat memanglah sudah dipastikan sebagai negara yang dapat meraih keuntungan besar dari proses globalisasi, dan negara-negara berkembang juga negara miskin tidak dapat dipastikan akan meraih keuntungan yang positif dari globalisasi ataupun tidak dari proses globalisasi.
    ACFTA merupakan produk keluaran dari globalisasi. Sebenaranya ACFTA merupakan peluang bagi negara ASEAN dan Cina untuk berkompetisi secara fair untuk memasarkan produk hasil dari negerinya. Dalam hal ini seperti yang kita ketahui bahwa Cina merupakan “Roda Penggerak“ dalam bidang barang, jasa dan investasi, dan mau tidak mau suka tidak suka, pemerintahan manapun harus siap dengan perjanjian tersebut termasuk Indonesia.
    Indonesia juga harus juga siap menghadapi perjanjian atau kesepakatan ACFTA tersebut. Mulai diberlakukannya perjanjian ACFTA akan berdampak pada makin kuatnya produk Cina yang akan masuk ke Indonesia, apalagi dengan bebasnya biaya masuk atau pajak masuk produk barang yang di produksi oleh Cina, produk Cina memang begitu kuat pasarnya apalagi ditambah dengan bebasnya tarif pajak tersebut. Harga produk Cina pun bisa lebih murah daripada produk lokal. Tentu saja dengan adanya hal tersebut sebagian industri lokal banyak yang menolak akan adanya ACFTA.
    Walaupun perjanjian ACFTA ini sudah relatif lama diberlakukan Indonesia masih dikatakan sulit untuk mengimplementasikan perjanjian tersebut. Tekanan dari kalangan pengusaha industri lokal sangatlah kuat dan menandakan bahwa pengaruh akan adanya perjanjian ACFTA tersebut akan berdampak negatif pada usaha menengah mereka, bukan hanya para pengusaha industri saja para pekerja pun menyadari akan hal itu, walaupun pengaruh ACFTA belum mereka alami saat ini namun lambat laun para pekerja pun akan merasakan dampak yang diberikan oleh ACFTA. Situasi itulah yang dirasakan oleh negara Indonesia yang terbilang sebagai negara berkembang.
    Tidak dapat dipungkiri ACFTA sebagai produk globalisasi akan relatif berpengaruh bukan hanya terhadap negara maju saja tetapi berpengaruh juga terhadap negara-negara berkembang. Dengan adanya globalisasi di dunia ini telah membuat seakan negara satu dan negara lainya kehilangan batas-batas teritorialnya serta berujung pada hilangnya status “negara bangsa“.
    BAB III PENUTUP
    A. Simpulan
    1) ACFTA merupakan ajang persaingan global dalam bidang produksi barang maupun jasa yang diadakan sesuai dengan perjanjian Indonesia dan China pada awal januari 2010.
    2) Kalahnya strategi persaingan bangsa Indonesia terhadap China mendominasi perekonomian semakin terpuruk. Sikap pesimisme para produsen indonesia mewarnai perang industri ini dan dijadikan estimasi Indonesia untuk kalah bersaing.
    3) ACFTA dipandang terlalu agresif untuk melakukan liberalisasi ekonomi Indonesia yang menjadikan keterpurukan Indonesia semakin dalam.
    4) ACFTA menimbulkan dampak Positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari adanya ACFTA mendominasi akan keterpurukan perekonomian Indonesia yang menjadi Bom Bunuh Diri bagi industri negara ini.
    B. Saran
    1) Pemerintah sepatutnya melakukan langkah antisipatif untuk memberikan kesempatan industri lokal berkembang, peningkatan kapasitas terpasang di seluruh cabang industri manufaktur, deregulasi perizinan, perbaikan infrastruktur listrik, jalan, dan pelabuhan, serta akses intermediasi perbankan yang menarik bagi investor dan peduli terhadap Market Domestic Obligation (MDO).
    2) UKM (usaha kecil menengah) perlu ditingkatkan guna memajukan daya saing produk yang semakin ketat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan keringanan terhadap para wirausahawan dalam memperoleh kredit usaha.

    DAFTAR PUSTAKA
    1. http://www.walhi.or.id/component/content/article/132-kegiatan/644-acfta?lang=in
    2. http://blogs.unpad.ac.id/yogix/2010/02/22/apa-itu-acfta/
    3. http://kaumbiasa.com/dampak-acfta-pada-lingkungan-hidup.php
    4. http://radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=52586
    5. http://www.pusdima-fis.co.cc/2010/03/dampak-positif-dan-negatif-acfta.html

  8. ikbal mutakin November 24, 2010 pada 8:14 am #

    MAKALAH
    MATA KULIAH “PENGANTAR BISNIS”
    “ACFTA Pengaruh Terhadap Perkembangan Bisnis di Indonesia”

    Oleh : Ikbal Mutakin
    Semester II. NPM 201003141

    DEPARTEMENT PENDIDIKAN NASIONAL
    SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI AL – KHAIRIYAH
    CITANGKIL – CILEGON¬ – BANTEN
    TAHUN AJARAN 2010 – 2011

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat Karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ”ACFTA Pengaruh Terhadap Perkembangan Binis di Indonesia ”
    Makalah ini disusun untuk membahas mengenai dampak ACFTA (Asean-China Trade Agreement) terhadap perekonomian Indonesia.
    Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang membangun agar dalam penyusunan makalah yang selanjutnya dapat lebih disempurnakan. Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih.

    Penyusun

    Ikbal Mutakin
    NPM.201003141

    DAFTAR

    Kata Pengantar 1
    Daftar Isi 2
    Pendahuluan 3

    BAB I. Perkembangan ACFTA(Asean-China Free Trade Area ) 4

    BAB II. Dampak positif dan dampak negative ACFTA 6

    BAB III. Kesimpulan dan Saran 8

    Daftar Pustaka 9

    PENDAHULUAN

    A. Latar belakang
    Sebuah terobosan yang dilakukan oleh komunitas masyarakat regional yang pada akhirnya terealisasi dalam bentuk komunitas perdagangan bebas, yakni antara negara-negara yang tergabung di ASEAN dengan China, melalui perjanjian ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). ACFTA ini menimbulkan suatu perkembangan baru pada kegiatan perdagangan internasional, terutama pada kawasan Asia Tenggara.
    Persetujuan ini telah dilaksanakan mulai Januari 2010. Itu artinya, mulai saat itu di antara negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dan China harus membuka pasar dalam negeri secara luas. Banyak pihak yang kontra dengan persetujuan ini karena Indonesia dianggap belum siap untuk ikut serta dalam perdagangan bebas ini.

    B. Identifikasi Masalah
    1. Pengertian (ACFTA).
    2. Perkembangan dan masalah ACFTA

    C. Tujuan Pembahasan
    1. Mengetahui ACFTA
    2. Dampak ACFTA terhadap ekonomi Indonesia

    D. Sistematika Pembahasan
    Dalam penulisan makalah ini menggunakan sistematika pengumpulan data dari pencarian situs website

    BAB. 1
    ACFTA(Asean-China Free Trade Area)

    ACFTA Merupakan akronim dari Asean-China Free Trade Agreement adalah kesepakatan perdagangan antara negara dengan pendduduk terbesar yakni China dengan negara-negara ASEAN atau ada kemudahan bagi China untuk menjual dagang-dagangnya ke negara-negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand)
    Asean – China Free Trade Aggrement (ACFTA) kian menjadi polemik bagi bangsa Indonesia. Mukadimah tahun ini menjadi momentum besar yang digunakan sebagai pengesahan perjanjian perdagangan internasional tersebut. Indonesia sendiri telah dengan gamblang mendeklarasikan pengesahan hubungannya dengan China sebagai partner dagang. Jadi secara tidak langsung, tahun ini perjanjian internasional tersebut telah legal untuk direalisasikan diseluruh lini perdagangan Indonesia yang terkait. Pemerintah seolah mengemban misi penting dalam pengesahan kerjasama yang menimbulkan berbagai reaksi keras dari para pebisnis tersebut. Asosiasi Industri Plastik, Aromatik, dan Olefin Indonesia (INAplas) meminta pemerintah menunda pelaksanaan perjanjian perdagangan bebas ASEAN (ACFTA) dari Januari 2010 menjadi 2015. Lebih jauh lagi INAplas sejak awal juga telah meminta penundaan FTA ASEAN dengan negara lain, di antaranya China, Korea, India, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
    Pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia (Apindo) membetuk tim bersama ASEAN-China Free Trade Agreement. Tim ini berperan menampung keluhan terkait hambatan pengusaha menghadapi pelaksanaan ACFTA yang dimulai awal Januari 2010. Tim yang dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian, Deputi Menko (Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan) Edi Putra ini menyoroti kebijakan, potensi gangguan ekspor impor dan pemanfaatan peluang.
    Dengan adanya tim ini dapat dipantau perbandingan seberapa besar kekuatan barang kompetitor. Keluhan-keluhan dari para pengusaha bisa dipakai untuk mengidentifikasi berbagai masalah yang perlu ditangani demi memperkuat daya saing industri nasional di ajang kompetisi ACFTA. Namun, pada kenyataannya, pembentukan tim tersebut kurang cukup membantu dalam menghadapi persaingan global. Hal ini dikarenakan masih minimnya daya saing produk Indonesia yang menjadi tombak perekonomian. Banyak faktor yang menentukan tinggi rendahnya daya saing. Salah satunya adalah peran dari strategi perdagangan dan industri. Tanpa strategi industri dan perdagangan, suatu negara tidak mungkin membangun industri yang kompetitif dan produktif.
    Apabila dilihat dari daya saing produk industri, indonesia masih minim dalam menghadapi persaingan, sedikitnya ada 14 sektor usaha yang harus dirundingkan ulang (renegoisasi) untuk penangguhan keikutsertaan dalam ACFTA selama 2-5 tahun kedepan.

    BAB II.
    DAMPAK POSITIF DAN DAMPAK NEGATIVE ACFTA

    Dalam hal ini, terdapat dampak positif dan negatif dari adanya ACFTA yang diberlakukan
    oleh Indonesia
    A. Dampak Negative.
    1. Pada bulan April 2006, perusahaan eksportir buah-buahan nasional PT Friendship Prima telah melayangkan complain adanya penolakan ekspor produk papaya, mangga dan salak oleh Kepabeanan RRC, alasannya Indonesia hanya diperbolehkan mengekspor manggis, pisang, dan longan.
    Pada konsultasi bilateral RI – RRC di Hanoi, Vietnam, Indonesia telah meminta klarifikasi dari pihak China atas penolakan ekspor buah-buahan tersebut., tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan karena instansi yang berwenang tidak ikut serta dalam sidang.
    2. jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.
    3. Membunuh Perekonomian Indonesia karena salah satunya adalah sektor Industri Tekstil karena harga bahan tekstil dari Cina lebih murah dari pada tektil Indonesia, perbedaan harga tekstil adalah 5% Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman.
    4. Terjadinya persaingan tidak seimbang.
    5. Bertambahnya tingkat pengangguran akibat dari perusahaan tempat bekerja kalah saing dengan perusahaan pendatang.

    B. Dampak Positif
    1. ACFTA akan berpengaruh positif pada proyeksi laba BUMN 2010 secara agregat. Porsi terbesar (91 persen) penerimaan pemerintah atas laba BUMN saat ini berasal dari BUMN sektor pertambangan, jasa keuangan dan perbankan dan telekomunikasi. BUMN tersebut membutuhkan impor barang modal yang cukup signifikan dan dapat menjual sebagian produknya ke pasar Cina.
    2. Tujuan dari ACFTA sendiri itu adalah memperkuat dan meningkatkan kerja sama antar negara terkait, yaitu meliberisasikan perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan atau penghapusan tarif. Kesepakatan perjanjian itu mencakup dalam tiga bidang yang strategis yaitu: perdagangan barang-barang, jasa, dan juga investasi. Perjanjian ACFTA adalah kerja sama dalam bidang ekonomi, Economic Co-opertaion between Asean and people’s Republic of China , yaitu kerjasama antara seluruh anggota daripada ASEAN dengan Negara Cina.
    3. dengan adanya ACFTA dapat meningkatkan voume perdagangan. Hal ini di motivasi dengan adanya persaingan ketat antara produsen. Sehingga produsen maupun para importir dapat meningkatkan volume perdagangan yang tidak terlepas dari kualitas sumber yang diproduksi.
    4. memperkuat dan meningkatkan kerjasama perdagangan kedua pihak.
    5. meliberalisasikan perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan atau penghapusan tarif.
    6. mencari area baru dan mengembangkan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan kedua pihak;
    7. memfasilitasi integrasi ekonomi yang lebih efektif dengan negara anggota baru ASEAN dan menjembatani kesenjangan yang ada di kedua belah pihak.

    BAB III.
    KESIMPULAN DAN SARAN
    • KESIMPULAN
    1. ACFTA menimbulkan dampak Positif dan negatif bagi perekonomian Indonesia. Namun hal ini tidak bisa dipungkiri dampak negatif dari adanya ACFTA mendominasi akan keterpurukan perekonomian Indonesia yang menjadi Bom Bunuh Diri bagi industri Negara Indonesia.

    • SARAN
    1. Pemerintah harus tetap konsisten dengan kewajiban penggunaan bahan baku lokal untuk berbagai sektor infrastruktur
    2. Memberikan kesepakan terhadap usaha kecil menengah UKM untuk berkembang.
    3. Memberikan pelatihan terhadap pengusaha pemula.

    Daftar Pustaka

    • tataniaga acfta
    • kesimpulan Acfta – Penelusuran Google
    • Negosiasi ACFTA �gagal� – BSN – Badan Standardisasi Nasional – National Standardization Agency of Indonesia – Setting the Standard in Indonesia ISO SNI WTO
    • positif acfta – Penelusuran Google
    • KOMPAS.com – Hatta.acfta.hadir.tren.perdagangan.positif
    • Menkeu: ACFTA Positif Bagi Laba BUMN 2010 – http://www.inilah.com
    • Pusat Studi Mahasiswa: Dampak Positif dan Negatif ACFTA Terhadap Rasa Nasionalisme Bangsa Indonesia
    • dampak positif acfta bagi indonesia – Penelusuran Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: